Karikatur Hamzah dibawa saat lakukan aksi protes kepada rezim Assad (BBC) |
Bulan Maret 2017 menandakan menandakan 6 tahun usia konflik yang terjadi di Suriah, antara rezim Assad dengan kelompok oposisi yang digalang kaum Sunni.
Konflik tersebut belum juga menemukan titik terang. Bahkan makin menjadi-jadi setelah negara adidaya bersaing melibatkan diri, serta munculnya kelompok teroris ISIS dan menguatnya kaum Kurdi di utara.
Sejak Desember 2010, tanah Arab mulai diramaikan dengan gelombang revolusi besar-besaran yang dilakukan warga terhadap para pemimpin diktator.
Gerakan revolusi ini kemudian dikenal sebagai ‘Kebangkitan Arab’ atau ‘Arab Spring’. Diawali dari Tunisia yang berefek domino ke berbagai negara Arab.
Di Suriah, terhitung sejak 15 Maret 2011, warga sipil mulai melakukan unjuk rasa menuntut turunnya rezim Assad. Dipicu kekerasan pasukan pemerintah yang bermula dari selatan negeri itu.
Basyar al-Assad mewarisi kekuasaan dari ayahnya, Hafidz. Rezim keluarga ini memimpin dengan tangan besi serta menerapkan hukum militer selama lebih dari 4 dekade.
Ada alasan lain lagi mengapa Assad tidak disenangi mayoritas penduduk Suriah yang mayoritas Sunni, pasalnya keluarga ini berasal dari suku Alawite yang memeluk agama Nushairiyah, sebuah sekte sempalan Syi'ah yang percaya perwujudan Tuhan pada manusia.
Namun dengan ideologi Ba'ats yang nasionalis pan-Arab, keluarga Assad kokoh berkuasa di tanah Suriah.
Hamzah Ali al-Khatib
Hamzah Ali AlKhatib (wikipedia) |
Pada April 2011, seorang anak laki-laki berusia 13 tahun diberitakan tewas dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Washington Post menuliskan, kepala anak itu bengkak, ungu dan rusak.
Tubuhnya terkoyak-koyak, dengan bekas luka bakar rokok, bahkan ditemukan bekas tembakan peluru di tubuhnya yang bertujuan menyiksa, tanpa membunuh.
Sedangkan tempurung lututnya pecah, lehernya patah, rahang hancur dan penisnya dipotong.
Kondisi jenazah Hamzah (SFP) |
Nama anak itu adalah Hamzah Ali al-Khatib, ia suka saat hujan turun di kampungya, sebuah sudut kecil di selatan Suriah.
Hamzah suka mengisi saluran irigasi sawah milik petani hingga penuh air, lalu ia dan anak-anak lainnya melompat dan berenang.
Meski bukan dari kalangan kaya, namun ia dikenal suka memberi, meminta uang kepada orang tuanya untuk diberikan kepada orang lain yang kurang beruntung.
“Ia sering meminta uang kepada orang tuanya untuk diberikan kepada fakir miskin. Saya ingat suatu hari Hamzah ingin memberi 100 Pound Suriah, dan keluarganya mengatakan itu terlalu banyak. Tapi Hamzah mengatakan ‘saya punya kasur untuk tidur dan makanan untuk dimakan sedang ia tidak’. Ia membujuk orang tuanya agar memberi 100 Pound kepada orang miskin itu”, tutur sepupu Hamzah kepada Al-Jazeera.
Hamzah ditahan oleh tentara rezim Assad ketika terlibat longmarch bersama teman dan keluarganya, sejauh 12 km dari Jeezah menuju Saida, provinsi Dara'a, Suriah.
Saat itu, di Saida terjadi kekisruhan antara pemerintah Assad dan warga sipil setempat. Dara'a memang titik awal perlawanan warga, sebabnya, sebelum itu belasan bocah diculik dan dibunuh tentara karena coretan anti Assad.
“Semua orang tampaknya sedang terlibat aksi protes, jadi ia hanya ikut-ikutan di kekerumunan itu”, cerita sang sepupu yang tidak ingin disebutkan namanya.
Hamzah dinyatakan hilang pasca kekisruhan tersebut. Belakangan diketahui, ia termasuk yang ditahan oleh tentara, bersama 51 pelaku aksi protes lainnya, kata sebuah sumber.
Ditahan sejak 29 April 2011, nasib Hamzah tak jelas. Barulah pada Selasa, 24 Mei 2011, Hamzah dipulangkan ke rumah, dalam wujud mayat tanpa nyawa.
Tubuh anak itu dikembalikan ke keluarganya dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
Media segera ramai memberitakannya, lengkap dengan rekaman video kondisi jenazah Hamzah saat itu.
Video menjadi viral di masyarakat Suriah, serta mencuri perhatian dunia. Menyebabkan kemarahan terhadap rezim Assad meletus ke berbagai wilayah.
Tragedi Hamzah al-Khatib memberikan efek yang sangat besar bagi politik negeri itu yang sebetulnya telah goyah. Gelombang protes terhadap rezim Assad semakin membesar dan meluas.
Kekerasan demi kekerasan terjadi, pasukan pemerintah dan milisi Syabihah tanpa henti bertindak represif, hingga menyebabkan meletusnya perlawanan bersenjata. (Al-Jazeera/WP/CBSNews/rslh)