foto : peta afganistan (aljazeera) |
Serangan udara NATO menewaskan sedikitnya 30 warga sipil, termasuk wanita, anak-anak dan bayi, di Kunduz, Afganistan.
Juru bicara pemerintah provinsi Mahmood Danish menjelaskan, Serangan udara pada Kamis (3/11) tersebut adalah operasi AS dan pasukan Afganistan yang menargetkan komandan senior Taliban.
"Pasukan Afghanistan dan pasukan koalisi melakukan operasi bersama melawan pemberontak Taliban. Dalam serangan tersebut 30 warga sipil tewas dan 25 lainnya terluka", kata Danish, dilansir dari Al-Jazeera. Namun, menurut warga Kunduz, angka kematian bahkan lebih tinggi dari itu.
Pihak Afghanistan mengatakan, pada hari itu memang terjadi pertempuran sengit beberapa kilometer di luar kota Kunduz. Target dari operasi gabungan tersebut adalah dua komandan senior Taliban, menurut kepala polisi Kunduz Jenderal Qasim Jangalbagh
Pasukan komando Afghanistan, didukung oleh pasukan NATO, turun dari helikopter di dua lokasi di provinsi Kunduz, termasuk di Desa Boze Qandahari, sekitar 3 km sebelah utara kota Kunduz.
"Pasukan Afghanistan diserang oleh Taliban di daerah itu, dan saat itulah serangan udara dipanggil," kata Shahood.
"Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak, mereka kira-kira berusia tiga bulan."
Dr Mohammad Naim Mangal, direktur sebuah rumah sakit di Kunduz, mengatakan mereka menerima satu mayat orang dewasa dan satu anak, serta mengobati 30 orang lainnya, termasuk anak-anak yang terluka dalam pertempuran itu.
Kematian warga sipil memicu protes di kalangan penduduk setempat, kerabat korban berkumpul di kantor gubernur dengan peti mati para korban
"Mereka meneriakkan 'Matilah Amerika', ‘Matilah Presiden (Ashraf) Ghani’ dan mereka (bersumpah) untuk membalas dendam", kata Shahood.
"Orang-orang sedang tidur di rumah mereka. Tiba-tiba Taliban menyerang Kunduz dan kemudian bom datang... Sepanjang malam pesawat mengebom (wilayah itu)", kata seorang warga.
"Sekitar 50 orang tewas, 40 sampai 50 orang terluka. Kesalahan apa yang anak-anak itu perbuat? saya ingin keadilan ditegakan", katanya.
Militer AS mengatakan, serangan udara dilakukan untuk melindungi pasukan sekutu dalam sebuah operasi, di mana dua tentara Amerika tewas. Mereka tidak memberikan detail mengenai prajurit yang tewas.
Dalam pernyataan terpisah, Misi Dukungan pimpinan NATO mengkonfirmasi bahwa serangan udara telah dilakukan di Kunduz untuk membela “pasukan kawan”.
"Semua klaim korban sipil akan diselidiki", katanya.
Dalam sebuah pernyataan, Taliban mengatakan pasukan Amerika terlibat dalam operasi untuk menangkap tiga pejuang ketika mereka datang menyerang.
Kelompok bersenjata itu juga mengatakan adanya korban sipil akibat seragan, mengklaim telah menewaskan 16 tentara AS. Taliban dituduh sering melebih-lebihkan kemenangannya di medan perang.
Pasukan Afghanistan telah kehilangan ribuan korban, lebih dari 5.500 tewas selama 2016.
Oktober lalu, serangan udara AS mengenai rumah sakit “Doctors Without Borders (MSF)” di Kunduz, menewaskan sedikitnya 42 orang, termasuk 24 pasien, 14 staf dan empat pengasuh. 37 orang lainnya luka-luka dalam serangan, dan serangan tersebut menghancurkan gedung rumah sakit MSF.
Hal itu mengundang kecaman dari kelompok hak asasi manusia.
Militer AS mengatakan serangan udara itu sebagai sebuah kesalahan dan meminta maaf, namun menegaskan serangan itu bukan kejahatan perang. (Al-Jazeera)